Penggemar

Sabtu, 02 Maret 2013

Perbanyakan Tanaman SecaraVegetatif (aseksual)


                                                                                                                                    I.            PENDAHULUAN


A.     LATAR BELAKANG

Perbanyakan tanaman dalam pertanian terbagi menjadi dua, yaitu perbanyakan generatif danperbanyakan vegetatif. Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan menanam biji tanamanterseleksi hingga menghasilkan tanaman baru yang lebih banyak, sedangkan perbanyakan secara vegetatif merupakan perbanyakan yang menggunakan bagian aseksual tanaman seperti batang, daun, ranting,cabang, dan akar untuk mendapatkan tanaman baru. Perbanyakan secara vegetatif dapat dibagi menjadibeberapa cara: (1) cangkok (air layerage); (2) merunduk(ground layerage);(3) Setek; (4) Penyambungan(grafting);(5) Okulasi(budding).Puring yang saat ini mulai diperhitungkan sebagai tanaman hias yang punya potensi dan penggemar yang luas ternyata mampu melakukan perbanyakan dengan mudah. Dari batang keras yang dimiliki, metode stek dan cangkok menjadi yang paling mudah untuk dilakukan. Selain punya waktu yang relatif singkat hasil perbanyakan juga 100 % sama dengan indukan.Tanaman hias dengan batang keras seperti halnya puring memang bisa tumbuh dengan mengandalkan penyerubukan alami. Namun butuh waktu yang cukup lama dan juga biji yang dihasilkan tidak bisa stabil kadang banyak dan sedikit. Dan yang utama hasil anakan dari biji punya kemungkinan besar tidak sama dengan indukan   
Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Sebagai alternarif perbanyakan vegetatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya. Cara perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop tanaman yang masih bertahan.
Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name dan true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh factor intern yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstern atau lingkungan. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh.
Perbanyakan dengan stek mudah dilakukan dan tidak memerlukan peralatan khusus dan teknis pelaksanaan yang rumit. Dimana, perbanyakan tanaman dengan stek ini mempunyai berbagai keunggulan seperti dapat menghasilkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan tanaman induknya dan dengan dilakukan perbanyakan tanaman secara stek lebih cepat berbuah dan berbunga, dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah yang banyak walaupun bahan tanaman yang tersedia terbatas atau sedikit.
Selain adanya keunggulan, perbanyakan tanaman secara stek terdapat juga kelemahan baik secara fisiologis maupun morfologi dalam pertumbuhan tanaman yaitu perbanyakan tanaman secara stek ini memiliki akar serabut yang dimana akar serabut pertumbuhan tanamannya rentan yaitu sangant mudah roboh pada keadaan ikim yang kurang mendukung seperti angin kencang, tanah selalu jenuh, dsb sehingga perakarannya dangkal, membutuhkan tanaman induk yang lebih besar dan lebih banyak sehingga membutuhkan biaya yang banyak dan dalam perbanyakan tanaman secara stek tingkat keberhasilanya sangat rendah.


B.     TUJUAN

Tujuan praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui dan menerapkan salah satu cara perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif
















                                                                                                                                                     II.            TINJAUAN PUSTAKA


·         KLASIFIKASI TANAMAN
Kingdom       : Plantae
Divisi            : Spermatophyta
Subdivisi      : Angiospermae
Class            : Dicotyledoneae
Ordo            : Euphorbiales
Family         : Euphorbiaceae
Genus          : Codiaeum
Spesies        : Codiaeum variegatum L.
·         DESKRIPSI TANAMAN
            Puring (Codiaeum variegatum L.) termasuk salah satu spesies famili Euphorbiaceae yang memiliki pertumbuhan bersemak dan banyak ditanam sebagai tanaman hias. Namun pemeliharaannya belum dilakukan secara intensif, baru ditanam sebagai tanaman pagar, pembatas tanah, tanaman pekuburan, dan tanaman hias yang ditanam begitu saja. Sebenarnya, tanaman ini memiliki keragaman warna dan bentuk daun, sehingga sangat potensial dijadikan tanaman penghias rumah atau sebagai elemen tanam.
Tanaman ini tumbuh dan tersebar dari daerah beriklim panas hingga daerah subtropika. Hingga saat ini belum ada data pasti yang menunjukkan asal tanaman ini. Menurut beberapa sumber pustaka, puring sudah lama ada di Indonesia dan pertama kali ditemukan di kepulauan Maluku yang dimanfaatkan sebagai tanaman pagar atau pekuburan.
Di setiap daerah puring memiliki nama berbeda-beda. Di Sumatra dikenal dengan nama tarimas, siloastam (Batak), nasalan (Nias), Pudieng (Minangkabau, Lampung). Di jawa dikenal dengan nama puring (Sunda, Jawa), Karoton (Madura). Di Nusa Tenggara dikenal dengan nama demung, puring (Bali), daun garida (Timor). Di kalimantan di kenal dengan nama uhung dan dolok. Di Sulawesi : dendiki (Sangir), Kejondon, Kalabambang, dudi, leleme, kelet, kedongdong disik (Minahasa), nuniki balano (Buol), balenga semangga (Makassar), dahengora, mendem (Manado). Di Maluku dikenal dengan nama susurite, salu-salu, fute, ai haru,sinsite, siri-siri (Seram), galiho, dahengaro, salubuto (Halmahera), dahengora, daliho (Ternate, Tidore).
Secara garis besar ada empat jenis puring, yaitu Meidum baill, Pictum hook, Croton pictus lood, dan phylovren lour. Jenis yang paling umum diperdagangkan adalah Croton. Varietas puring yang terkenal adalah puring nuri (C. variegatum ’Miami’), puring gelatik (C. variegatum ‘Belvalen’), puring ketapang (C. variegatum ‘Miami’), puring banci (C. variegatum ‘Imperialis), Poring bor (C. variegatum ‘Jan Bier), puring buntut ayam (C. variegatum ‘Majestic’), Puring jet (C. variegatum ‘exotica’), cactus tiang/petung (C. variegatum ‘Majestic’), dan cactus gendong (C. variegatum ‘Mac Art’).
Bentuk daun tanaman puring bervariasi, ada yang berbentuk pita yang panjangnya 5 cm – 30 cm, elips, oblong, bulat, hingga seperti ujung tombak. Permukaan daun ada yang rata, bergelombang, dan berpilin. Warna daun juga bervariasi, ada yang berwarna hijau tua polos dan ada pula yang memiliki lebih dari tiga macam warna dengan variasi hijau, coklat, merah, biru dan kuning. Coraknya ada yang berbintik-bintik, bergaris-garis, dan belang-belang. Daun dan tangkainya memiliki getah berwarna bening hingga putih. Bunga telanjang dengan benang sari yang banyak dan tersusun berangkai dalam satu tangkai bunga. Batang berkayu dan bergetah, tinggi mencapai 3 meter dan memiliki percabangan yang banyak.
Selain ZPT, pada media cangkok diberikan juga pupuk, baik NPK, maupun pupuk daun. Pupuk NPKdapat diberikan setelah dilakukan pengenceran terlebih dahulu, dengan konsentrasi 5%. Demikian jugaapabila menggunakan pupuk daun yaitu dengan memberikan 2 cc /L air Tahap yang terakhir adalah membungkus sayatan. Pembungkusan media tanah yang dicampur dengan pupuk kandang atau kompos dan media sabut kelapa memerlukan teknik tertentu. Pertama ikat dulubagian bawah lembaran pembalut 6 cm di bawah sayatan. Lalu media yang telah dibasahi itu diisikan ke dalampembalut, kemudian dirapikan dan pembalut diikat di bagian atasnya.Pemeliharaan cangkokanDalam pemeliharaan cangkokkan yang perlu diperhatikan adalah menjaga kelembababan mediacangkok
Tanaman puring selain sebagai penghias pagar dan pekarangan rumah pucuk daun mudanya juga dapat dimanfaatkan sebagai lalapan (sayuran), tanaman hias, dan obat-obatan tradisional. Kegunaan penting, antara lain adalah sebagai berikut :
Ø      Akar dan kulit tanaman puring digunakan untuk menyamak kulit karena tanaman puring mengandung zat penyamak.
Ø      Air rebusan daun puring bias digunakan untuk memperlancar keluarnya keringat. Caranya, air rebusan tersebut digunakan untuk mandi. Jika diminum, air rebusan daun puring juga dapat membantu menurunkan panas badan karena demam.
Ø      Air rebusan daun puring jenis air mancur dapat digunakan untuk mencegah penyakit rajasinga.
Ø      Papagan kulit batang yang diseduh dengan air panas lalu diminum dapat mengurangi rasa sakit perut akibat diare.
Perkembangbiakan vegetatif alami
Yaitu terjadi individu baru tanpa adanya campur tangan manusia. Reproduksi seperti ini terjadi dengan beberapa cara, yaitu:
  1. Dengan pembelahan sel, terjadi pada tumbuhan bersel satu, misalnya alga bersel satu Chlorella, Chlamydomonas, dll.
  2. Dengan menghasilkan spora vegetatif, misalnya pada tumbuhan paku, fungi, dan ganggang
  3. Dengan rhizoma atau akar tinggal: pada irut, bunga tasbih, lengkuas, temulawak, dan kunyit.
  4. Dengan stolon atau geragih, misalnya pada pegagan (Sentela asiatica), rumput teki (Cyperus rotundus), arbei, dan lain sebagainya.
  5. Dengan umbi batang, misalnya pada kentang (Solanum tuberosum).
  6. Dengan umbi lapis, misalnya pada bawang merah (Allium cepa).
  7. Dengan umbi akar, misalnya pada ketela pohon
  8. Dengan tunas, misalnya pada bambu (Gigantochloa sp).
  9. Dengan tunas adventif, misalnya pada cocor bebek
Agus Choliq Pemilik Krokot Nursery yang mengkoleksi puring mengakui menggunakan metode stek dan cangkok dalam melakukan perbanyakan tanamannya. Sedangkan untuk penyerbukan alami dirinya melakukan hanya untuk proses penyilangan. Harapannya bisa menghasilkan satu jenis baru yang baik. Dengan naiknya pamor puring saat ini otomatis proses perbanyakan harus lebih cepat dan evisien sebagai konsekuensi permintaan pasar yang meningkat.
Puring yang mempunyai batang keras mempunyai karakter yang berbeda dengan tanaman lainnya dengan karakter batang lunak. Bila di sejajarkan maka perbanyakan puring sama dengan tanaman yang sering kita lihat di sekitar kita dan yang paling mudah di dapatkan adalah tanaman buah. Berikut kami berikan dua alternatif tips dan trik perbanyakan puring.

·         SYARAT TUMBUH
            Tanaman puring di Indonesia dapat tumbuh di dataran rendah ataupun di dataran tinggi, dengan ketinggia mencapai 1.500 m dpl. Untuk mendapatkan warna yang jelas dan cerah, puring menghendaki intensitas cahaya yang penuh dan temperatur udara berkisar 200 C – 350 C. Kebutuhan air tidak terlalu banyak sehingga tanaman puring dapat tumbuh di daerah-daerah yang agak kering dengan kelembaban udara sekitar 30% - 60%.
            Tanaman puring sering dijuluki tanaman kuburan. Tanaman dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tidak memerlukan jenis tanah khusus. Puring tumbuh mulai tanah berat, lempung berpasir, hingga tanah ringan. Sebagai tanaman yang dibudidayakan, puring dapat ditanam dalam pot atau langsung di kebun terbuka. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik diperlukan tanah yang mengandung bahan organik, subur dan gembur, tata udara dan tata airnya baik, serta pH tanah berkisar 5 – 8.
Puring yang saat ini mulai diperhitungkan sebagai tanaman hias yang punya potensi dan penggemar yang luas ternyata mampu melakukan perbanyakan dengan mudah. Dari batang keras yang dimiliki, metode stek dan cangkok menjadi yang paling mudah untuk dilakukan. Selain punya waktu yang relatif singkat hasil perbanyakan juga 100 % sama dengan indukan.
Tanaman hias dengan batang keras seperti halnya puring memang bisa tumbuh dengan mengandalkan penyerubukan alami. Namun butuh waktu yang cukup lama dan juga biji yang dihasilkan tidak bisa stabil kadang banyak dan sedikit. Dan yang utama hasil anakan dari biji punya kemungkinan besar tidak sama dengan indukan   





III. PELAKASANAAN PRAKTIKUM


A.    Waktu dan tempat
            Waktu             :
      Tempat            : Fakultas Pertanian dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian

B.     Alatdanbahan
·         Pisau atau cutter
·         Polibag
·         Plastik es lilin
·         Rumah plastik

C.     Cara kerja
·         Siapkan alat dan bahan yang telah ditentukan
·         Bagi kelompok berdasarkan nim (ganjil dan genap)
·         Pilih puring yang memiliki ukuran yang sama
·         Potong bagian ujung batang dengan bentuk V
·         Satukan btang puring yg satu dengan puring yang lain
·         Ikat dengan plastik es lilin,jangan sampai goyang
·         Tanam pada polibag jangan sampai goyang
·         Letakkan pada tempat nya
·         Amati selama 2 minggu dengan interval 1 minggu 1 kali
·         Catat hasil nya

















IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN




A.    HASIL
`
Hasil dari praktikum ini setelah dilakukan pengamatan adalah sebagai berikut :
Tanggal
Pengamatan ke-
Jumlah Tunas
Jumlah Daun
Deskripsi Tanaman
11 Desember 2012
1 (pertama)
-
3 (tiga)
Mulai menghasilkan Tunas.
18 Desember 2012
2 (kedua)
1 (satu)
4 (emapat)
Telah bertunas dan berkembang.

Catatan:
            Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka dari satu tanaman yang ditanam secara stek pada beberapa cabang tumbuh dengan baik. Pada pengamatan pertama yang dilakukan seminggu setelah tanam, sudah tampak tumbuh tunas dan daun, namun jumlah setiap cabang yang dilakukan stek memiliki jumlah daun yang berbeda. Sedangkan pada pengamatan kedua dilakukan pada dua minggu setelah dilakukan penanaman, jumlah daun sudah bertambah dan sudah bertunas.
            Kegagalan dalam melakukan penyambungan tanaman puring  disebabkan oleh kontaminasi oleh virus serta suhu an kelembapannya yang tidak teratur, kurangnya ketelitian dalam penyambungan sehingg pada penggabungan kedua tanaman, kambium dari batang atas atau batang induk dan batang bawah tidak bersentuhan dan bersinggungan. Tujuan dari perbanyakan tanaman secara vegetatif yaitu untuk mendapatkan sifat individu yang sama dengan individunya.


Tugas:
1.      Sebutkan keuntungan dan kerugian perbanyakan vegetatif dibandingkan dengan cara generatif.
Jawab: Keuntungan:
-          Tanaman akan lebih cepat berbunga dan berbuah. Sedangkan perbanyakan secara generatif waktu untuk mulai berbuah lebih lama..
-          Sifat keturunan sama dengan induknya sedangkan secara generatif sifat keturunan tidak sama dengan induk.
-          Dapat digabung sifat-sifat yang diinginkan.
Kerugian:
-          Perakaran kurang baik, sedangkan perbanyakan secara generatif sistem perakarannya kuat.
-          Lebih sulit dikerjakan karena membutuhkan keahlian tertentu, sedangkan pada generatif mudah diperbanyak.
-          Jangka waktu berbuah lebih pendek jika dibandingkan dengan perbanyakan tanaman secara generatif.
2.      Sebutkan keuntungan dan kerugian perbanyakan dengan cara stek jika dibandingkan dengan perbanyakan vegetatif lainnya.
Jawab: Keuntungan:
-          Memiliki keunggulan seperti tanaman induk
-          Mudah cara mengerjakannyaj jika dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif lainnya.
-          Bisa diperoleh bibit dalam jumlah yang banyak.
Kerugian:
-          Perakaran tidak kuat, karena tidak ada akar tunggang.
-          Pada tanaman tertentu tingkat keberhasilannya sangat rendah.
3.      Tulisakan sepuluh tanaman yang bisa diperbanyak dengan cara stek.
Jawab:
1.      Mawar                                     6. Tebu
2.      Cocor bebek                            7. Tanaman pagar
3.      Melati                                      8. Ubi kayu
4.      Asoka                                      9. Ubi karet
5.      Puring                                      10. Bunga kamboja

4.      Tuliskan 10 tanaman yang bisa diperbanyak dengan cara garfting.
Jawab:
1.      Nangka                        6. Kopi
2.      Duku                           7. Kakao
3.      Mangga                       8. Kweni
4.      Manggis                      9. Puring
5.      Alpokat                       10. Kelengkeng

5.Tulisakan 10 tanaman yang bisa diperbanyak dengan cara okulasi.
Jawab:
1.      Alpokat                       6. Langsat
2.      Belimbing                    7. Jambu
3.      Jeruk                            8. Durian
4.      Mangga                       9. Teh
Sirsak                          10. Kopi

Perbanyakan Vegetatif
Keuntungan :
1.      lebih cepat berbuah
2.      sifat turunan sesuai dengan induk
3.      dapat digabung sifat-sifat yang diinginkan
Kelemahan :
  1. perakaran kurang baik
  2. lebih sulit di kerjakan karena membutuhkan keahlian tertentu
  3. jangka waktu berubah menjadi pendek

Dibawah ini merupakan sedikit penjelasan tentang keuntungan perbanyakan tanaman secara stek :
Memiliki keunggulan seperti tanaman induk
Mudah cara pengerjaannya
Bisa diperoleh bibit dalam jumlah yang banyak

·         Kelemahan
Adapun kelemahan perbanyakan tanaman secara stek batang ialah :
Perakarannya tidak kuat, karena tidak ada akar tunggang
Pada tanaman tertentu tingkat keberhasilannya sangat rendah

·         Keunggulan / Kelebihan mencangkok
1.      Sifat tanaman baru sama seperti induknya
2.      Menghasilkan buah dalam waktu yang relative singkat ± 4 tahun
3.      Waktu yang diperlukan untuk perbanyakan relative singkat antara 1 – 3 bulan.
·         Kelemahan / Kekurangan mencangkok
1.  kuat dan dangkal
2.  kurang cangkokan Bentuk pohon induk jadi rusak
3.  Perakaran Tidak dapat menyediakan bibit yang relative banyak dalam waktu yang cepat
4.  Cara pengerjaan sedikit lebih rumit dan memerlukan ketelatenan
5.  Jika sering dilakukan pencangkokan terhadap pohon induk maka produksi buah induk menjadi terganggu.
·         Kelebihan Okulasi
Keuntungan-keuntungan pembiakan vegetatif antara lain adalah bahan-bahan heterozigot dapat dilestarikan tanpa pengubahan pembiakan vegetatif lebih baik dibandingkan pembiakan secara generatif. Karena pada pembiakan vegetatif satu tumbuhan induk dapat menghasilkan beberapa individu baru dalam waktu yang cukup singkat, banyak tanaman yang dikembangkan secara vegetatif dapat melestarikan sifat hasil yang dimiliki oleh tanaman induk
Keuntungan dari memperbanyak dengan cara okulasi dan sambungan ialah, bahwa kita dapat membuat bibit dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang relatif singkat
·         Kelemahan Okulasi
Kekurangan dan kerugian dari pembiakan vegetatif adalah biasanya tanaman yang berfungsi sebagai tanaman induk mudah rusak. Jumlah biji yang diperoleh terbatas, perakaran tanaman hasil biakan vegetatif kurang, dan umur tanaman lebih pendek
Keuntungan dan Kerugian Perbanyakan Tanaman Secara Grafting adalah :
·         Keuntungan
a. Mengekalkan sifat-sifat klon yang tidak dapat dilakukan pada pembiakan vegetatif lainnya seperti stek, cangkok dan lain-lainnya.
b. Bisa memperoleh tanaman yang kuat karena batang bawahnya tahan terhadap keadaan tanah yang tidak menguntungkan, temperatur yang rendah, atau gangguan lain yang terdapat di dalam tanah.
c. Memperbaiki jenis-jenis tanaman yang telah tumbuh, sehingga jenis yang tidak di inginkan diubah dengan jenis yang dikehendaki.
d. Dapat mempercepat berbuahnya tanaman (untuk tanaman buah-buahan) dan mempercepat pertumbuhan pohon dan kelurusan batang (jika tanaman kehutanan).
·         Kerugian
a. Bagi tanaman kehutanan, kemungkinan jika pohon sudah besar gampang patah jika ditiup angin kencang
b. Tingkat keberhasilannya rendah jika tidak cocok antara scion dan rootstock
·         Tanaman yang dapat di stek yaitu : puring,bunga kertas,jeruk,bougenfil.dll
·         Tanaman yang dapat diperbanyak dengan cara grafting : durian,jeruk,jambu air,bougenvil, kembang sepatu, beringin soka.
·         Tanaman yang diperbanyak dengan cara okulasi : mangga , manggis
B.     .PEMBAHASAN

Reproduksi vegatatif buatan
Selain itu tumbuhan dapat juga berkembang biak dengan cara tak kawin dan dengan bantuan manusia, biasa disebut reproduksi secara vegetatif buatan, misalnya: mencangkok, stek, okulasi, mengenten, dan merunduk.
a. Mencangkok
Tumbuhan yang biasa dicangkok adalah tumbuhan dikotil seperti jambu, sawo, rambutan, mangga, jeruk, dan lain-lain. Tujuan mencangkok adalah agar diperoleh tumbuhan baru yang cepat berbuah dan sifatnya sama dengan induknya.
b. Menempel (okulasi)
Menempel adalah menggabungkan bagian tubuh dua tanaman yang berbeda. Umumnya dua jenis tanaman yang digabungkan tersebut masing-masing mempunyai kelebihan. Misalnya tumbuhan mangga berakar kuat, buahnya sedikit, dengan tumbuhan mangga yang berakar lemah, buahnya banyak. Maka cara menempelnya, pada batang tumbuhan yang berakar kuat, ditempelkan kulit yang mempunyai calon tunas dari batang tumbuhan mangga yang berbuah banyak tetapi berakar lemah tadi.
c. Merunduk
Cara ini dilakukan dengan merundukkan dan kemudian membelokkan ke bawah batang atau cabang tanaman. Pada bagian cabang yang tertimbun tanah kemudian akan tumbuh akar-akar. Setelah akar-akarnya kuat cabang yang berhubungan dengan batang induk dipotong. Tanaman yang biasa dikembangkan dengan merunduk adalah apel, anyelir, alamanda, selada air, anggur, dan lain sebagainya.
d. Mengenten (menyambung/kopulasi)
Pada dasarnya menyambung sama dengan menempel. Cara ini banyak dilakukan pada singkong dan buah-buahan. Mula-mula biji disemaikan. Setelah tumbuh lalu disambung dengan ranting/cabang dari pohon sejenis yang buahnya baik. Kemiringan potongan ± 45°. Diameter batang atas harus sesuai dengan diameter batang bawah. Kedua sambungan itu diikat dengan kuat. Diusahakan agar tidak terjadi infeksi. Buah yang dihasilkannya akan sama dengan buah yang dihasilkan pohon asalnya.
e. Stek
Stek adalah memperbanyak dengan potongan-potongan batang, yang ditanam, lalu tumbuh menjadi tanaman baru. Potongan-potongan tersebut harus punya buku-buku. Banyak dilakukan terhadap ubi kayu, tebu, tanaman pagar, dan lain-lain.
Keuntungan dan kerugian reproduksi vegetatif buatan
Banyak petani yang mengembangkan cara reproduksi pada tanaman buah-buah, tanaman liar, dan lain-lain dengan cara mencangkok, stek, merunduk, okulasi, mengenten dan lain-lain. Cara ini memberikan beberapa keuntungan antara lain:
  • Sifat tanaman baru akan sama persis dengan sifat tanaman induk.
  • Cepat menghasilkan buah.
Disamping itu ada pula beberapa kerugian, antara lain:
  • Tanaman yang berasal dari stek ataupun mencangkok umumnya mempunyai sistem perakaran yang kurang kuat.
  • Perkembangbiakan secara vegetatif dapat menghasilkan sedikit keturunan.
  • Bila tanaman hasil reproduksi vegetatif dipotong ranting-rantingnya maka dapat menyebabkan menurun pertumbuhannya.
Karena dalam reproduksi secara vegetatif tidak terjadi penggabungan sifat-sifat dari induknya, maka dihasilkan keturunan baru yang sifatnya sama dengan sifat induknya.
HAMA TANAMAN
1.     Tungau (Tetranychus sp.)
Hama ini bersifat poliphag dan menyerang lebih dari 100 jenis tanaman. Tungau betina sekali bertelur kurang lebih 100 butir. Umur satu generasi mencapai 10 hari pada temperatur 300 C atau 22 hari pada temperatur 180 C. tungau aktif pada siang hari dan membuat benang-benang halus. Tungau dewasa berukuran 0,5 mm warnanya kuning pucat hingga kemerahan. Penyebaran tungau dapat terjadi karena angin yang menghembuskan hingga berhamburan, ikut bersama daun yang jatuh, melalui pakaian orang yang lewat didekatnya, alat pertanian, serangga. Hama ini menyerang tanaman pada musim kemarau yang ditandai dengan adanya bintik-bintik pucat dan banyak sarang pada daun. Serangan yang berat menyebabkan daun menggulung berwarna coklat, kemudian berguguran.
2.     Wereng putih (Empoasca sp.)
Serangga ini berwarna putih, bentuknya kecil, memiliki sepasang sayap berukuran 0,5 mm. hama ini terdapat di permukaan bawah daun menyerang tanaman hingga menimbulkan noda pada daun. Daun yang terserang berwarna coklat kemerahan seperti terbakar, tepi daun menggulung ke bawah kemudian mongering. Hama meletakkan telurnya di bagian bawah daun. Pengendalian hama ini dengan membakar daun-daun yang terserang hama atau tanaman yang diserang disemprot insektisida Tamaron, Decis, atau Matados dengan konsentrasi 0,2%.
3.     Thrips sp.
Hama ini berkembang pesat jika udara kering dan temperatursekitar 260 C – 280 C. panjangnya 1 mm – 2 mm, berwarna hitam, bertelur hingga 50 butir. Lama perkembangan mulai telur sampai dewasa sekitar 33 hari. Kebanyakan thrips bersifat parthenogenesis. Thrips menyerang dengan cara menghisap cairan dari permukaan hingga terjadi bercak berwarna putih seperti perak. Bercak tersebut akan berubah menjadi warna coklat, kemudian daun mati dan gugur. Serangan yang berat menyebabkan daun menjadi keriput seperti terserang virus. Pengendaliannya dengan cara menyemprot insektisida Decis 0,5 cc – 1 cc/liter ait atau Thiodan 2 cc/liter air.
PENYAKIT TANAMAN
1.     Penyakit Karat
Penyakit ini menyerang tanaman pada malam hari yang udaranya lembap, banyak hujan, dan berkabut. Serangan berat dapat menimbulkan bercak-bercak berwarna kecoklatan, kemudian daun mongering. Pengendaliannya dengan membuat Drainase media tanam agar air tidak menggenang, daun-daun yang terserang dipotong dan dibakar dan tanaman disemprot dengan fungisida Zineb 2%, atau Dithane M-45 sebanyak 2 – 3 gram/liter air.


2.     Lumut Kerak
Lumut ini menempel pada batang dan percabangan tanaman yang tidak terkena cahaya matahari. Serangannya tidak membahayakan, tetapi ganggu kebersihan dan penampilan tanaman karena batang dan percabangan tampak kotor. Pengendaliannya yaitu : (1) Bagian batang yang diserang dipangkas dan dibakar. Cahaya matahari diusahakan dapat menembus seluruh bagian tanaman. (2) Lumut pada batang dibersihkan dengan cara dikerok menggunakan pisau secara hati-hati, jangan sampai kulit batang terluka atau tergores. (3) Batang tanaman yang diserang diolesi dengan fungisida dengan menggunakan kuas, misalnya, Cobox, Zineb, Benlate dan Ridomil dengan konsentrasi 2%.






















V.                KESIMPULAN DAN SARAN


A.    KESIMPULAN

1.       Perbanyakan vegetatif yang bertujuan untuk mendapatkan hasil, yaitu kualitas dan sifat-sifat tanaman yang sama dengan induknya dapat dilakukan dengan cara stek batang, stek daun dan cangkok.
2.      Untuk mendapatkan hasil yang beragam dan meningkatkan sifat-sifat unggul tanaman dapat dilakukan dengan sambung pucuk (grafting).
3.       Dari hasil percobaan rata-rata persentase yang tinggi dalam perbanyakan vegetatif yang dilakukan adalah stek daun. Karena teknik ini paling mudah dilakukan dan tidak memerlukan keahlian khusus.
4.       Persentase yang paling rendah adalah sambung pucuk (grafting) karena diperlukan kecermatan yang lebih dan keahlian dalam melakukan perbanyakan dengan cara ini.
5.      Untuk mendapatkan bibit yang berkualitas yang sifatnya sama dengan induknya serta dapat memberi hasil secara cepat maka dapat dilakukan dengan cara perbanyakan secara vegetatif buatan. Namun perlu diperhatikan kondisi batang yang akan diperbanyak, perlakuan saat perbanyakan  serta perlu memperhatikan  kondisi lingkungan tumbuh sekitar.
A.    Saran
1.      Perhatikan setiap praktikan dalam pemotongan dan penyambungan tanaman agar tanaman dapat tumbuh.
2.      Berikan kembali pengetahuan kepada praktikan, apakah yang telah di dapat dalam pengamatan tersebut dan faktor-faktor apa saja yang dapat menghambat dari pengamatan tersebut.
3.      Berikan pengetahuan kepada praktikan bagaimana cara memilih puring yang baik.
4.      Agar percobaan memiliki tingkat keberhasilan yang baik, agar diberi pengajaran yang lebih bagaimana menyatukan kedua tanaman yang akan disambung.



VI. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1984. Beberapa Cara Perbanyakan Vegetatif. Departemen Pertanian Balai
Informasi Pertanian. Ungaran. 92p.
Hadiati, S. 1994. Interaksi Antara Beberapa Macam Batang Bawah dan Batang Atas
Pada Pembibitan Rambutan (Nephelium lappaceum L.). Penelitian
Holtikultura 6 (3):1-11.
Jawal et al., 1995. Pengaruh Umur dan Varietas Batang Bawah Terhadap
Keberhasilan Sambung Mini Mangga Arum Manis. Penelitian Holtikultura
7(1):34-44.
Jumin, Hasan. Basri, 1994, Dasar-Dasar Agronomi, PT. Raja Garfindo, Jakarta. 140p
Sugito, L., Jawal. M., Wijaya. 1991.  Pengaruh IBA dan Pengeratan Terhadap
Keberhasilan Stek Rambutan Binjai. Penelitian Holtikultura 4 (2):1-8.
Sutiyoso, Y. 1995. Mencangkok Pohon Buah. Trubus. XVI(187):192p.
Wijaya. 1985. Sambung Pucuk Untuk Tanaman Buah. Trubus. XVI(185):192p.
Wudianto. Rini, 1991.  Membuat Setek, Cangkok dan Okulasi. Penebar Swadaya.
Jakarta. 150p.